Saat aku mengenalnya, saat dimana ia masih tertawa dengan lepasnya, saat dimana ia tak perduli akan tubuhnya, saat dimana ia masih suka manggodaku. Aku tak tahu apa maksud Tuhan mempertemukan kami di kala itu, di waktu yang sebenarnya tak seorang pun mengharapkan pertemuan, tapi juga tak ingin terpisahkan.
Waktu itu ia mengawali perkenalan kami, pekenalan yang tak begitu indah tapi sangat berkesan. Ia lain dari yang lain, ia istimewa, sehingga aku tak ragu untuk mulai memasuki kehidupannya. Kehidupannya, yang tak seorang pun dapat menebak maksudnya, dimana ia berjalan sesuai kehendak nafsunya. Aku pun tak begitu mengerti akan samudra kehidupannya yang dalam sebelum mengenalnya lebih jauh lagi. Mungkin bagi sebagian orang yang belum mengenalnya secara mendalam, akan berfikir ia gila, ia tak tahu etika, ia semaunya sendiri. Tapi begitu aku mengetahui sosoknya, aku mulai jatuh cinta dengan lika-liku drama kehidupannya. Dibalik sosoknya yang brutal dan sulit ditebak, ia memiliki hati yang tak ada seorangpun mengukur kebesaran dan kelembutannya. Mungkin hanya Penciptanya yang tahu.
Ia pernah bercerita padaku bahwa tubuhnya tak sempurna, aku tersentak mendengarnya. Maklum, kami tak pernah bertatap muka, jadi wajar aku tak tahu bentuk fisiknya. Tapi sungguh aku mengenal sifatnya dengan baik, bahkan melebihi saudara kandungnya sendiri. Ia bercerita bahwa kaki kanannya tak berfungsi dengan baik, karena kecelakaan dua tahun lalu saat ia bersama kakak laki-lakinya. Yang membuat aku heran adalah perkataan kakak laki-lakinya, bahwa kakinya luka karena menolong kakaknya dari kecelakaan antara sepeda motor yang mereka kendarai dan truk yang melintas. Truk itu seharusnya telah menabrak habis kakaknya, tapi ia justru mendorong tubuh kakaknya dan merelakan kakinya tersangkut truk dan tubuhnya pun otomatis terseret truk. Aku sungguh tak habis pikir, bahkan untuk membalas omongan kakaknya pun tak bisa. Aku membisu
Selain itu ia juga pernah bercerita bahwa ginjalnya hanya tersisa satu saja. Ia mendonorkan satu ginjalnya kepada orang tua dari teman dekatnya. Ia berkata “keluarga itu hanya memiki satu tulang punggung, yaitu ayahnya yang ginjalnya rusak itu. Sedangkan ibunya telah meninggal dunia. Bagaimana nasib anak-anaknya kalau saja ayahnya meninggal?! Makanya aku menyumbangkan satu ginjalku untuk beliau. Toh ginjalku masih ada satu” aku menangis mendengarnya, terkesan ia tak perduli akan dirinya dan hanya berfikir untuk orang lain. Sungguh besar hatinya
Tapi dari semua cerita-ceritanya itu, sama sekali aku tak merasa iba padanya, tak seperti orang lain yang menganggapnya tak mampu berbuat apa-apa dengan keadaan itu. Aku berfikir sebaliknya. Dari semua peristiwa itu, aku yakin ia begitu kuat untuk menjalani sisa waktunya di dunia ini.
Ia begitu liar, mungkin ia termasuk dari salah satu anak-anak yang tak menghargai dan memikirkan dirinya. Ia merokok, meminum-minuman keras, bahkan mencoba obat-obatan terlarang. Tapi ia tak pernah membebani orang lain dengan keliarannya itu, bahkan membebani orang tuanya ia tak mau. Ia membeli semua barang-barang terlarang itu dari hasil keringatnya sendiri.
Sekalipun ia seperti itu, ia tak pernah mencoba untuk mengajakku kedunianya. Menurutku ia sangat menjagaku dan menjauhkan diriku dari realita dunianya.
Sebelum ia mengalami kecelakaan maut itu, ia adalah orang yang sangat berbakat dalam hal apa pun. Ia adalah seorang pemain drum yang handal, bahkan ia telah memenangkan beberapa kejuaraan tingkat internasional. Ia juga mengikuti kegiatan bela diri, dan ia juga cukup cemerlang di kegiatan tersebut. Tapi semua itu terpaksa berhenti karena kendala kaki kanannya. Tragis.
Sampai saat ini aku masih belum mengerti mengapa kehidupannya begitu berwarna, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Ia pernah mendongeng tentang ia dan keluarganya. Sejak kecil, ia sudah harus mendengarkan teriakan dari kedua orang tuanya. Pada suatu hari, saat ia beranjak dewasa, ia memutuskan pergi dari rumahnya untuk beberapa hari. Itu semua disebabkan karena ia mendengar orang tuanya yang berencana untuk bercerai. Ia tinggal beberapa hari di salah satu gubuk kecil dimana di dalamnya tinggal beberapa anak-anak jalanan yang mengkonsumsi barang haram setiap harinya, tapi ia tak mencobanya sedikit pun. Ia miris melihat anak-anak yang tak mengecap pendidikan ini, karena mereka lebih paham akan barang haram tapi belum tentu mampu membaca dan menulis. Ia ingin membebaskan anak-anak itu dari belenggu barang jahanam itu. “mungkin suatu hari nanti” ia berucap. Bijaksana, sangat bijaksana.
Ia pulang beberapa hari setelah ia bertemu salah satu teman sekolahnya di lampu merah pada saat ia mencari uang untuk makan. Temannya berkata bahwa ibunya mencarinya, ia pun pulang. Karena pasti ia merindukan keluarganya. Ia sangat menyayangi ibunya.
Cerita lain. Ia dahulu sangat menyayangi seseoarang, cinta pertamanya kurasa. Mereka merajut cerita indah tak bercela, mereka saling mencinta. Tapi sepuluh hari setelah ia mengalami kecelakaan, perempuan yang sangat ia sayangi ini mengalami kecelakaan juga. Dan tragisnya, perempuan ini meninggal. Sulit sekali menerima kenyataan itu, mungkin ini salah satu kenyataan yang paling sulit diterimanya. Aku tahu, sampai saat ini ia tak akan melupakan perempuan itu. Karena seseorang yang telah tiada hanya bisa hidup di hati dan kenangan orang yang mengingatnya.
Dan aku harus memendam kecemburuanku pada perempuan yang paling dikasihinya itu.
* * *
Saat ini aku di rumah, menunggu pesannya memasuki ponselku.
Tiba-tiba ponselku berdering, bukan pesan yang masuk, tapi ia menelefonku. Aku langsung mengangkatnya, tapi ia membisu. Pada saat telfonnya terputus, pesannya memasuki ponselku. Isinya berkata bahwa ia ada dirumah sakit sekarang. Awalnya ia tak mau aku mengetahui sebab ia berada di rumah sakit, tetapi setelah kudesak berkali-kali ia pun mengaku. Ia terjangkit kanker otak, aku menangis. Tangisan yang paling dahsyat seumur hidupku.
Sekarang, aku selalu menemaninya setiap detik dalam sisa hidupnya. Aku tak tahu sampai kapan ia dapat bertahan. Aku selalu teringat tentang pepatah “orang baik selalu pergi lebih dahulu”, dan ia adalah orang yang terlampau baik. Tapi Tuhan, tolong. Aku baru mengenalnya, aku baru ikut dalam petulangan hidupnya. Dan aku yakin masih banyak kisah yang harus ia dendangkan di telingaku.
Ya, aku sedang menjalani hubungan dekat dengannya. Pada saat ia baru beberapa hari berada di rumah sakit. Aku menjalani ini bukan karena iba, tapi hatiku tak mampu membendung rasa kasih yang terlampau dalam ini untuk waktu yang lama.
Ia begitu optimis seperti biasanya, tapi tidak denganku. Seharusnya aku yang memberinya semangat, bukan sebaliknya.
Ia sering menuliskan tulisan indah untukku dan membacakannya di telefon. Tulisannya mampu membuat imajinasiku terbang jauh melewati dimensi yang hanya kami saja yang dapat menjangkaunya. Tulisannya dapat membuatku melupakan semua penat dan ketakutan yang merajai, yang teringat hanya “aku menyayangimu”.
Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar memberi kesempatan untuk kami dapat menghabiskan waktu bersama. Aku selalu menangis mendengar suaranya di seberang sana, tapi ia selalu menghiburku dan melarangku menangis. Ia sangat kuat.
Cita-citaku untuk bertemu dengannya pun harus tertunda. Aku bersabar untuknya, walaupun di dalam hatiku aku aku tak rela, aku tak mampu bersabar sekuat itu.
Jarak kami begitu jauh, sangat jauh. Tapi aku merasa, hati kami tak pernah memisah, dan tak akan terpisahkan. Bahkan Tuhan pun tak sanggup.
Ia, malaikat yang terlihat rapuh namun memiliki hati yang tak tergoyahkan. Aku menunggumu. Cepat sembuh. Aku mencintaimu.
PERJALANAN
Minggu, 30 Oktober 2011
Diposting oleh
Ratih Wulandari
di
06.05
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar